Ilustrasi Antrean Layanan Kesehatan di Kota Bandung. (Foto: Istimewa)
BANDUNG, FORMASNEWS.COM – Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Bandung tidak serta-merta menutup berbagai persoalan di lapangan. Di balik angka kepuasan 85,9 persen versi survei Litbang Kompas, antrean panjang dan ketimpangan layanan masih menjadi keluhan yang kerap muncul.
Survei yang dilakukan pada 23 Februari hingga 3 Maret 2026 itu memang menempatkan sektor kesehatan sebagai layanan publik dengan penilaian tertinggi. Namun, dinamika di fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa peningkatan akses belum sepenuhnya diimbangi dengan kapasitas layanan.
Dalam satu tahun terakhir, Pemerintah Kota Bandung mencatat cakupan Universal Health Coverage (UHC) telah mencapai 99,39 persen atau setara dengan 2.583.777 peserta. Capaian ini membuka akses layanan kesehatan bagi hampir seluruh warga.
Di satu sisi, kondisi tersebut menjadi kemajuan signifikan karena hambatan biaya semakin berkurang. Namun di sisi lain, lonjakan jumlah pengguna layanan turut meningkatkan beban fasilitas kesehatan, baik di puskesmas maupun rumah sakit.
Antrean pasien masih terjadi di sejumlah fasilitas, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Selain itu, distribusi layanan antara puskesmas dan rumah sakit dinilai belum sepenuhnya seimbang, sehingga beberapa titik layanan mengalami kelebihan beban.
Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai langkah penguatan, seperti menghadirkan layanan puskesmas 24 jam, termasuk di Puskesmas Ibrahim Adjie dan Puskesmas Garuda, serta meningkatkan kapasitas di 80 puskesmas dan menambah 236 tenaga kesehatan dalam setahun terakhir.
Namun upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengurai persoalan waktu tunggu layanan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, mengakui bahwa tingginya kepuasan masyarakat harus diiringi dengan perbaikan berkelanjutan, terutama dalam hal kecepatan layanan dan pemerataan akses.
“Ini menjadi tantangan bagi kami untuk memastikan layanan tidak hanya mudah diakses, tetapi juga cepat dan merata di seluruh wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa sektor kesehatan tetap menjadi prioritas, dengan fokus pada peningkatan kualitas layanan dan efisiensi sistem.
Kondisi ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan Bandung kini memasuki fase baru. Setelah berhasil memperluas akses hampir ke seluruh warga, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas layanan mampu mengikuti tingginya permintaan.
Tanpa perbaikan pada distribusi layanan dan pengelolaan kapasitas, antrean berpotensi tetap menjadi persoalan, bahkan di tengah tingginya tingkat kepuasan masyarakat. (red)
Mahasiswa Unpad Diajak Membaca Arah Industri Perbankan di Tengah Disrupsi AI dan Fintech
Kolaborasi BRI dan Yayasan di Cirebon Perkuat Layanan Kemanusiaan Berbasis Komunitas
Rajutan UMKM Tasikmalaya Tembus Italia, BRI Dukung Permodalan Lewat KUR
BRILIANPRENEUR BRI Cetak UMKM Go Global, Restu Mande Tembus Forum Ekonomi Dunia
BRIncubator 2026 Dibuka, Ini Cara dan Syarat UMKM Jawa Barat Ikut Program BRI
Layanan Safe Deposit Box BRI Bandung Jadi Pilihan Nasabah Lindungi Aset Berharga
Yayasan Bandung Cinta Damai Terima Ambulans dari BRI untuk Perkuat Layanan Sosial Kesehatan
Insan Pers Turun Tangan, PWI Jabar dan BRI Bandung Salurkan Sembako untuk Warga
Ancaman Siber Mengintai Jelang Lebaran, BRI Ajak Nasabah Tingkatkan Literasi Keamanan Digital
Libatkan Pesantren dan Yayasan, BRI Region 9 Bandung Perkuat Distribusi Bantuan Sembako
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa