Bendera Partai Demokrat. (Foto: Istimewa)
BANDUNG, FORMASNEWS.COM – Perpindahan tiga mantan kader senior Partai Demokrat Jawa Barat ke Partai NasDem menambah dinamika politik di Jawa Barat menjelang Pemilu 2029. Ketiganya adalah Achdar Sudrajat, Wawan Setiawan, dan Toto Purwanto, yang sebelumnya memiliki pengalaman sebagai kader maupun anggota legislatif dari Demokrat.
Ketiganya diperkenalkan sebagai kader baru NasDem dalam kegiatan di Akademi Bela Negara Partai NasDem, Jakarta, Minggu, 6 September 2026. Ketua DPW NasDem Jawa Barat M. Rahmat menyebut ketiganya siap dipersiapkan menghadapi Pemilu Legislatif 2029.
Achdar Sudrajat dan Toto Purwanto disebut pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat, sedangkan Wawan Setiawan pernah menjabat sebagai Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Barat. Perpindahan tersebut membuat pengalaman dan jaringan politik ketiganya kini berada di bawah partai yang berbeda.
Toto Purwanto mengungkapkan salah satu hal yang menarik perhatiannya terhadap NasDem adalah gagasan politik tanpa mahar. Menurutnya, prinsip tersebut menjadi salah satu pertimbangan hingga akhirnya bergabung dengan NasDem.
Sementara itu, perpindahan tiga kader tersebut terjadi tidak lama setelah Demokrat Jawa Barat menyelesaikan Musyawarah Daerah (Musda) VI. Dalam forum yang berlangsung pada 24 Agustus 2026, Anton Sukartono Suratto kembali ditetapkan sebagai calon tunggal Ketua DPD Demokrat Jawa Barat periode 2026–2031.
Sebelum Musda, seluruh 27 ketua DPC Demokrat kabupaten/kota di Jawa Barat menyatakan dukungan terhadap Anton. Dukungan tersebut menjadi dasar pencalonannya dalam Musda VI.
Hasil tersebut menunjukkan dukungan formal organisasi terhadap kepemimpinan Anton. Namun, di luar forum Musda, sejumlah kader dengan pengalaman panjang di Demokrat kemudian memilih melanjutkan perjalanan politik melalui partai lain.
Salah satu kader Demokrat, Eko, menilai dinamika tersebut perlu menjadi bahan evaluasi internal. Ia mengaitkan keputusan sejumlah kader senior untuk meninggalkan partai dengan kekecewaan terhadap proses kepemimpinan di tingkat DPD.
“Kalau boleh disimpulkan, hal itu terkait kekecewaan mereka terhadap proses pemilihan Ketua DPD yang kembali menetapkan saudara Anton sebagai ketua,” kata Eko.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Eko dan tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai alasan yang sama bagi seluruh kader yang berpindah partai. Masing-masing kader memiliki pertimbangan politik dan keputusan individual.
Eko juga menyoroti capaian elektoral Demokrat Jawa Barat. Pada Pemilu 2024, Demokrat memperoleh delapan kursi DPRD Jawa Barat, sementara dalam Pemilu 2019 partai tersebut memperoleh 11 kursi. Kondisi itu, menurut Eko, perlu menjadi bahan evaluasi menghadapi pemilu berikutnya.
Di sisi lain, Demokrat Jawa Barat telah mulai mempersiapkan organisasi menuju Pemilu 2029. Sehari sebelum Musda VI, DPD Demokrat Jabar menggelar pendidikan politik bagi anggota fraksi DPRD provinsi serta kabupaten/kota. Agenda tersebut antara lain membahas survei politik Jawa Barat dan strategi menghadapi Pemilu 2029.
Artinya, dua dinamika berjalan bersamaan. Demokrat Jabar memperkuat struktur kepemimpinan dan mulai menyusun strategi menuju kontestasi berikutnya, sementara sejumlah mantan kadernya memilih bergabung dengan partai lain yang juga tengah mempersiapkan mesin politik menghadapi 2029.
Bagi Eko, kader yang telah lama berkiprah di partai memiliki nilai strategis karena membawa pengalaman, jaringan, serta hubungan dengan konstituen yang dibangun dalam waktu panjang.
“Keberadaan kader yang telah lama berada di dalam rumah politik sebenarnya merupakan aset partai karena mereka punya konstituen yang sudah lama terbentuk. Ketika kader-kader ini pindah partai, konstituen yang selama ini dibangun juga berpotensi ikut berpindah,” katanya.
Namun, sejauh mana perpindahan kader tersebut berdampak terhadap kekuatan elektoral masing-masing partai masih menjadi hal yang perlu dilihat melalui perkembangan politik dan hasil pemilu mendatang. Perpindahan individu tidak dengan sendirinya menunjukkan perubahan dukungan seluruh konstituen yang pernah berhubungan dengan mereka.
Bagi Demokrat Jawa Barat, tantangan setelah Musda VI bukan hanya menyelesaikan penyusunan kepengurusan periode 2026–2031, tetapi juga menjaga komunikasi internal dan mempertahankan jaringan politik menjelang 2029. Sementara bagi NasDem, masuknya tiga mantan kader Demokrat menjadi bagian dari proses penguatan organisasi dan persiapan menghadapi kontestasi legislatif mendatang.
Dengan demikian, perpindahan Achdar Sudrajat, Wawan Setiawan, dan Toto Purwanto menjadi salah satu perkembangan politik Jawa Barat setelah Musda Demokrat Jabar. Dampak lebih jauh dari perpindahan tersebut terhadap peta dukungan politik di Jawa Barat baru dapat terlihat seiring berlangsungnya konsolidasi partai dan tahapan Pemilu 2029. (red)
Renovasi Rumah Jadi Langkah BRI Peduli Dukung Pencegahan Stunting di Indramayu
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
BRI Percepat Pembiayaan Sektor Produktif, KUR Tembus Rp84,36 Triliun Hingga Mei 2026
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa