Petugas Solusi Bangun Indonesia melakukan pemantauan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Pabrik Narogong, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)
NAROGONG, FORMASNEWS.COM – Ancaman musim kemarau yang lebih kering dan panjang mendorong sektor industri untuk semakin serius mengelola sumber daya air. Kondisi atmosfer kering yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau 2026, ditambah prakiraan fenomena El Niño yang masih bertahan hingga awal 2027, menjadi tantangan bagi keberlanjutan operasional industri.
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) merespons kondisi tersebut dengan memperkuat efisiensi penggunaan air melalui pemanfaatan kembali air, pengembangan sumber air alternatif hingga penerapan teknologi untuk mengoptimalkan distribusi air di fasilitas produksi.
Upaya efisiensi tersebut bahkan telah membawa perusahaan melampaui target keberlanjutan yang ditetapkan hingga 2030. Dalam Target Keberlanjutan 2030, Solusi Bangun Indonesia menargetkan pengurangan pengambilan air baku sebesar 10 persen dibandingkan baseline 2019.
Hingga 2025, perusahaan mencatat pengurangan pengambilan air baku sebesar 45 persen dibandingkan baseline tersebut.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, mengatakan perubahan pola iklim membuat dunia industri perlu semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.
“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total pengambilan air baku di seluruh area operasi Solusi Bangun Indonesia turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.
Penurunan juga terlihat pada penggunaan air permukaan. Volume pengambilan air permukaan turun sekitar 18 persen, dari 841 megaliter pada 2024 menjadi 688 megaliter pada 2025.
Penggunaan air tanah juga berkurang sekitar 11 persen, dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter. Sebaliknya, volume air hujan yang ditampung meningkat sekitar 9 persen, dari 676 megaliter pada 2024 menjadi 734 megaliter pada 2025.
Solusi Bangun Indonesia juga terus meningkatkan pemanfaatan recycled water dalam proses produksi semen. Sepanjang 2025, empat pabrik semen milik perusahaan memanfaatkan 563 megaliter recycled water dari proses produksi.
Volume tersebut setara dengan 31,7 persen dari total pengambilan air dan meningkat sekitar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di Pabrik Narogong, Jawa Barat, upaya penghematan air dilakukan melalui pengembangan inovasi pada fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terintegrasi. Fasilitas tersebut dioptimalkan melalui proses koagulasi dan sedimentasi untuk menghasilkan kualitas air olahan yang lebih stabil sehingga dapat digunakan kembali untuk kebutuhan operasional.
Hasilnya, selama Januari hingga Juni 2026, sebanyak 17.477 meter kubik air hasil pengolahan berhasil dimanfaatkan kembali dan menggantikan penggunaan air tanah maupun air sungai untuk mendukung kegiatan operasional pabrik.
Selain mengolah kembali air limbah, Solusi Bangun Indonesia juga memanfaatkan teknologi untuk mengatur penggunaan air secara lebih presisi. Di Pabrik Narogong, perusahaan menerapkan Programmable Logic Control (PLC) dan Internet of Things (IoT) melalui sistem River Pump Management.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengatur distribusi air sesuai kebutuhan fasilitas produksi. Penerapannya turut berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi air tawar yang bersumber dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.
Edi mengatakan berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga ketahanan operasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” katanya.
Langkah efisiensi air tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak hanya berkaitan dengan penghematan dalam kegiatan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan kegiatan industri dalam jangka panjang. (red)
Renovasi Rumah Jadi Langkah BRI Peduli Dukung Pencegahan Stunting di Indramayu
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
BRI Percepat Pembiayaan Sektor Produktif, KUR Tembus Rp84,36 Triliun Hingga Mei 2026
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa