BANDUNG, FORMASNEWS.COM – Pelaku industri alas kaki tradisional di Jawa Barat berharap adanya dukungan lebih konkret dari pemerintah untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka di tengah meningkatnya biaya produksi dan persaingan produk impor. Salah satu usulan yang mengemuka adalah pemberian subsidi bahan baku serta pelatihan berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan industri di lapangan.
Aspirasi tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Formulasi Model Kesiapan Smart Industri Kecil Menengah Melalui Craftsmanship Skills Index dan Komitmen Manajerial untuk Penguatan UMKM Sepatu Tradisional” yang digelar di Bandung, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Hibah Kemdiktisaintek 2026 Skema Penelitian Dasar itu mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk membahas strategi mempertahankan eksistensi industri sepatu tradisional di tengah perubahan zaman.
Dalam forum tersebut, para pengrajin menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemasaran dan digitalisasi, tetapi juga tingginya biaya produksi akibat ketergantungan terhadap sejumlah bahan baku yang harganya terus meningkat.
Perwakilan IKM alas kaki, Ikin Sodikin, menilai dukungan pemerintah dalam bentuk program subsidi material dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu pelaku usaha mikro dan kecil tetap bertahan.
Ia juga mengingatkan bahwa sentra sepatu seperti Cibaduyut memiliki sejarah panjang yang harus dijaga agar tidak kehilangan identitasnya akibat persaingan industri yang semakin ketat.
“Jangan sampai Sepatu Cibaduyut itu tinggal nama saja, kaya dinosaurus,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan tokoh masyarakat sekaligus pengrajin sepatu, Gun Gun Ruhiyadi. Menurutnya, industri alas kaki telah menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga di kawasan Cibaduyut dan daerah sentra produksi lainnya.
“Saya hidup dari sepatu,” katanya, menggambarkan ketergantungan masyarakat terhadap keberlangsungan sektor tersebut.
Sementara itu, Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung, Roni Sukirman, menegaskan bahwa penguatan daya saing industri tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha agar industri alas kaki mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar.
Ia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi pengrajin saat ini mencakup aspek produksi, pemasaran, penentuan harga, hingga kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
Dalam kesempatan yang sama, tim peneliti yang dipimpin Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P. memaparkan rancangan Craftsmanship Skills Index (CSI), sebuah instrumen yang dirancang untuk memetakan kompetensi pengrajin sepatu tradisional sekaligus mengukur kesiapan mereka menuju Smart Industri Kecil Menengah (Smart IKM).
Berbeda dengan pendekatan yang hanya menitikberatkan pada digitalisasi, model yang sedang dikembangkan ini berupaya menggabungkan keterampilan tradisional pengrajin dengan kemampuan adaptasi terhadap teknologi dan pemasaran modern.
Tim peneliti memvalidasi delapan kompetensi utama yang mencakup kemampuan desain pola, pemilihan material, konstruksi sepatu, finishing, pengendalian kualitas, transfer pengetahuan kepada generasi muda, hingga kesiapan pemasaran digital.
Menurut Dr. Nurhaeni, penelitian ini bertujuan menangkap pengalaman dan pengetahuan para pengrajin sebagai dasar penyusunan model pengembangan industri yang lebih relevan dengan kondisi nyata di lapangan.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa pelaku usaha lebih membutuhkan program pelatihan yang aplikatif dan berkelanjutan dibandingkan pelatihan yang hanya bersifat teoritis. Pendampingan usaha secara langsung juga dinilai penting untuk membantu pengrajin meningkatkan kualitas produk dan memperluas akses pasar.
Melalui penelitian tersebut, para peserta berharap lahir kebijakan dan program yang mampu menjaga keberlanjutan industri alas kaki tradisional di Cibaduyut, Garut, maupun Ciomas Bogor. Dengan dukungan kompetensi yang kuat, akses bahan baku yang lebih terjangkau, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, industri sepatu tradisional diyakini masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat. (red)
BRI dan TNI Perkuat Kolaborasi Sosial Lewat Renovasi Masjid Annur di Kodim 0605 Subang
BRI Genjot Pembiayaan Properti dan Otomotif Lewat Consumer Expo 2026 di Bandung
Cashback hingga Kartu Debit FC Barcelona Jadi Magnet BRI di Indomaret Fun Bike 2026
BRI Perkuat Digitalisasi Transaksi Merchant di Bandung Lewat Program Merchant Lucky Ride
Zakat Pekerja BRI Jadi Investasi SDM Jawa Barat, 556 Pelajar dan Mahasiswa Terima Beasiswa
BRI Ubah Pola Kurban Korporasi, Insan BRILian Bandung Sebar Hewan Kurban Langsung ke Kampung-Kampung
Dorong Lingkungan Bersih di Kawasan Pendidikan Militer, BRI Salurkan Armada Sampah ke Sesko AU
BRI Salurkan Bantuan Perlengkapan Ibadah Rp200 Juta untuk Warga Antapani
BRI Perkuat Keamanan Digital, Gencarkan Edukasi Bahaya Penipuan KUR Online
BRImo Bawa Nasabah Asal Sukabumi ke Camp Nou
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa