Camal seorang pedagang tahu gejrot, warga asal Berebes Desa Negla Dukuh Mayang Kecamatan Losari ini, yang setiap hari mangkal dilapangan olahraga Brigif Kota Cimahi, Sabtu (21/11/2020). Foto :Yat.
BANDUNG, FORMASNEWS.COM – Bagi masyarakat Cirebon Jawa Barat, di pastikan akan mengenal dan mengetahui dengan yang namanya tahu gejrot, sebagai makanan tradisional khas Cirebon khusunya dan umumnya Jawa Barat. Makanan yang terbuat dari tahu, ditambah bumbu bawang merah, gula aren, garam dan diberi cabe untuk menambah selera makan penggemarnya. Makanan yang terbuat dari bahan kacang kedelai ini, gemari tua muda.
Sehingga tak, heran bagi Camal seorang pedagang tahu gejrot, warga asal Berebes Desa Negla Dukuh Mayang Kecamatan Losari ini, cukup laris manis. Bahkam, sehari dia bisa ngantongin keuntungan Rp. 80.000,- hingga 110.000,-. “Namun, sejak pandemi Covid-19, melanda Indonesia tepatnya bulan maret 2020 hingga sekarang. Tidak lagi, selaris manis sebelumnya,” ujarnya saat perbincangannya dilapangan komplek olahraga Brigif Kota Cimahi, Sabtu (21/11/2020).
Selama ganjang ganjingnnya kasus Corona atau Covid-19, pada bulan Maret hingga Juni 2020 lalu, jualannya tidak menentu. Karena, tempat mangkalnya di lapangan olahraga Brigif dan kampus Unjani Cimahi, ditutup tidak ada satu orangpun diperbolehkan berjualan. Apalagi, kabar soal kasus Corona yang disiarkan di TV swasta terus meningkat setiap harinya, membuat dirinya ketir.
Maka, dia juga memustuskan untuk pulang kekampung halamannya, dan tidak berjulan selama 3 bulan. Selama di kampung sangat disayangkan, dirinya tidak pernah mendapat bantuan sosial (Bansos) baik dari Presiden, dari Gubernur maupun di Pemerintah Kota Berebes. Untuk biaya makan sehari hari, dia mengandalkan menjadi buruh tani dari pemilik sawah.
Kini pandemi Covid-19 sudah mulai berangsur pulih, Pemerintah juga tidak terlalu ketat seperti sebelumnya, kata Camal yang berusia 31 tahun dan memilik tubuh gemuk ini, dirinya setelah lebaran tahun 1441 Hidjriah kembali berjulan. Apalagi tempat manggkalnya dilapangan olahraga Brigif dibuka kembali bagi warga biasa berolahraga. Namun, jualan di Brigif tidak seperti biasanya, sekarang ini pengelola lapangan Brigif bagi siapapun pedagang maupun penmgunjung diharuskan memakai protokol kesehatan dan 3 M.
“Seperti, harus memakai masker, mencuci tangan pakai sabun yang sudah disiapkan tempatnya oleh pengelola, menjaga jarak dan tidak boleh berkurumun. Bila ada pedagang dan pengunjung berolah raga, tidak memakai masker ditegur oleh petugas keaman dan pengelola,” tambah Camal.
Pandemi Covid-19 keberadaanya masih ada, bagi dirinya tidak terhalangi untuk mencari napkah kembali berjualan tahun gejrot guna menghidupi keluarganya. Karena dengan selalu memakai protokol kesehanatan, bisa terhindar dari Covid-19. Selain itu juga, secara tidak langsung sudah membantu pemerintah dalam hal pencegahan penularan Virus Corona.
Diakuinya, berjulan tahu gejrot sudah hampir 11 tahun, sama usianya dengan pernikahannya yang sudah 11 tahun, namun tuhan belum meberikan keturunan. Kata Camal, jualannya, sebelum mangkal di lapangan olah raga Brigif dia keliling kesetiap kampung dari gang masuk gang. Sekarang ini, dia beruntung bisa menetap mangkal di lapangan olahraga Brigif, dengan jualan tahu gejrot seharga 1 posri Rp. 8.000,-, bisa kembali menghidupi keluarganya.
Bahkan, dia juga mampu untuk mengontrak kamar sebulan Rp. 500. 000,- bersama temannya sesama pedagang tahu gejrot di Kampung Babakan Sari RT 09/09 Kelurahan Padasuka Cimahi Tengah, yang sebelumnya ikut dengan pamannya dikampung yang sama.
Meski tidak selaris manis jualannya, sebelum adanya Covid-19, tetapi paling tidak dirinya sekarang ini bisa memberikan napkah kepada istrinya dan bisa pulang kekampung halaman setiap bulan. Dikatakan, Camal tahu gejrot, sebelum berjualan ditempat mangkalnya, dia juga setiap malam harus mengambil ke Bandar tahu gejrot di Dungus Carian Bandung. Pedagang, tahu gejrot yang ngambil ke Bandar ini, ada sekitar 30 orang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di Cimahi dan Bandung.
Setiap hari, Camal sendiri mengambil tahu khas buatan Cirebon ini sebanyak 300 buah tahu. Dari 300 tahu itu kadang tidak habis, kalau habis dia mendapatkan uang setiap harinya Rp. 250.000.-. Dari jumlah itu, Rp. 60.000,- disetorkan kepada Bandar, kemudian Rp, 80.000, beli bahan bumbu, seperti gula aren 1 Kg, Bawang merah 3 perapat, cabe 3 perapat dan garam. “Sisanya, Rp. 110.000,- ke untungannya. Tapi dia juga mengaku penghasilanya, tidak selalu beruntung. Kadang lebih dan kadang kurang dari jumlah itu. Dia juga, berharap pandemi Covid-19, segerara berlalu, agar bisa beraktifitas normal seperti biasa,” ucap Camal. (Yat)
Renovasi Rumah Jadi Langkah BRI Peduli Dukung Pencegahan Stunting di Indramayu
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
BRI Percepat Pembiayaan Sektor Produktif, KUR Tembus Rp84,36 Triliun Hingga Mei 2026
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa