Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., saat menjadi narasumber podcast Basa Basi PWI Kota Bandung. (Foto: Istimewa)
BANDUNG, FORMASNEWS.COM – Upaya memerangi narkoba di Jawa Barat tidak bisa hanya mengandalkan penangkapan bandar dan pengedar. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat menilai pencegahan sejak dini menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkotika yang semakin kompleks.
Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., mengatakan Jawa Barat memiliki tantangan besar dalam pemberantasan narkotika. Dengan jumlah penduduk sekitar 51,7 juta jiwa, provinsi ini menjadi wilayah strategis yang berpotensi dimanfaatkan jaringan narkotika untuk menjalankan distribusi ke berbagai daerah.
“Jawa Barat menjadi batu loncatan dari banyak kasus narkotika nasional,” ujar Sulistyo dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung.
Menurut dia, ancaman tersebut tercermin dari sejumlah kasus besar yang berhasil diungkap di Jawa Barat. Mulai dari pabrik PCC di Kawalu, Tasikmalaya, yang disebut mampu memproduksi jutaan pil per hari, hingga pengungkapan pabrik narkotika di Cimahi.
BNNP Jawa Barat juga pernah menggagalkan peredaran narkotika dalam jumlah besar, termasuk pengungkapan sekitar lima ton ganja di Kota Bogor.
Namun, bagi Sulistyo, angka pengungkapan tersebut bukan satu-satunya persoalan. Dampak narkoba terhadap anak-anak dan remaja justru menjadi ancaman jangka panjang yang harus mendapat perhatian serius.
Ia mengungkapkan, pengguna narkotika yang menjalani rehabilitasi melalui BNN tidak sedikit yang masih berusia remaja. Bahkan, terdapat anak berusia 13 hingga 15 tahun yang sudah terpapar narkoba.
“Pengguna terbanyak itu generasi muda,” katanya.
Menurut Sulistyo, persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama karena narkoba dapat merusak potensi generasi muda yang sedang dipersiapkan menjadi sumber daya manusia berkualitas.
Upaya meningkatkan pendidikan, misalnya, akan kehilangan hasil maksimal apabila anak-anak dan remaja justru terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
“Kalau upaya pendidikan yang tinggi ditarik lagi ke belakang oleh peredaran narkoba yang masif, tentu menjadi persoalan,” ujarnya.
Karena itu, BNNP Jawa Barat tidak hanya mengedepankan pendekatan penegakan hukum, tetapi juga mencari cara agar pesan pencegahan narkoba lebih mudah diterima kalangan muda.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memanfaatkan budaya Sunda melalui pupuh Sinom.
Sulistyo menjelaskan, Sinom memiliki filosofi yang berkaitan erat dengan anak muda. Pupuh tersebut sejak dahulu digunakan untuk menyampaikan nasihat dan pepeling kepada generasi muda.
Pesan mengenai bahaya narkoba kemudian dikemas melalui seni tradisional agar lebih dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.
“Nasihatnya ini untuk anak muda, agar mereka memiliki daya tangkal, daya tahan dan pengetahuan bahwa narkoba ini berbahaya,” jelasnya.
Program tersebut bahkan dikembangkan melalui lomba ngawih yang melibatkan sekitar 182 peserta. Mereka berasal dari kalangan seniman muda, remaja, pelajar hingga seniman profesional dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Sulistyo berharap pendekatan budaya dapat membuat pesan antinarkoba tertanam lebih kuat, bukan hanya menjadi pengetahuan sesaat.
Di sisi lain, BNNP Jawa Barat tetap memperkuat pengawasan terhadap jalur yang berpotensi digunakan untuk memasukkan dan mengedarkan narkotika. Pengawasan dilakukan melalui jalur darat, laut maupun udara.
Wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk kawasan Pangandaran hingga Garut, menjadi salah satu perhatian karena memiliki jalur laut yang berpotensi dimanfaatkan jaringan narkotika.
Menurut Sulistyo, nelayan tradisional juga berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan pengedar untuk melakukan transaksi narkotika di tengah laut.
Pengawasan juga dilakukan terhadap jalur penerbangan melalui screening secara insidental berdasarkan momentum maupun informasi intelijen.
“Tidak ada ruang hukum di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh BNN. Di mana pun potensi penyalahgunaan itu ada,” tegasnya.
Sulistyo juga memastikan penegakan hukum tidak membedakan latar belakang seseorang. Jabatan, profesi maupun akses tertentu tidak boleh menjadi perlindungan bagi pelaku kejahatan narkotika.
Ia mencontohkan pengungkapan kasus pilot asal Malaysia yang membawa sabu dalam jumlah puluhan kilogram sebagai gambaran bagaimana jaringan narkotika dapat memanfaatkan berbagai profesi dan jalur untuk menjalankan aksinya.
“Secara prinsip hukum, tidak ada manusia yang kebal hukum,” ujarnya.
Sementara bagi masyarakat yang keluarganya sudah terlanjur terpapar narkoba, Sulistyo meminta agar tidak ragu mencari bantuan. Ia menegaskan layanan rehabilitasi BNN bagi masyarakat tidak dipungut biaya.
“Rehabilitasi di BNN itu gratis. Semuanya gratis,” katanya.
Menurutnya, pengguna narkotika membutuhkan pertolongan melalui rehabilitasi, sementara sasaran utama penindakan adalah bandar dan pengedar.
“Yang harus takut itu pengedar sama bandar,” tegas Sulistyo.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar berani menolak ketika mendapat tawaran narkoba. Sebab, menurutnya, perangkap narkoba sering dimulai dari pemberian gratis hingga korban akhirnya mengalami ketergantungan.
Setelah ketagihan, pengguna dapat dibuat bergantung kepada pengedar dan bahkan terlilit utang.
Karena itu, Sulistyo meminta anak muda tidak perlu takut dianggap tidak gaul hanya karena menolak narkoba.
“Tidak apa-apa kalau dianggap cemen. Yang penting sehat,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadi bagian dari upaya pemberantasan narkoba dengan segera melaporkan jika menemukan indikasi peredaran narkotika di lingkungan masing-masing.
Bagi BNNP Jawa Barat, perang melawan narkoba bukan hanya persoalan aparat penegak hukum. Keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan generasi muda memiliki peran penting untuk memutus mata rantai peredaran narkotika sejak dari akarnya.
“Jaga diri dan keluarga kita dari ancaman para bandar narkoba. Hidup sehat lebih baik daripada setelah terjerumus, untuk keluarnya juga berat,” tutupnya. (red)
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
BRI Percepat Pembiayaan Sektor Produktif, KUR Tembus Rp84,36 Triliun Hingga Mei 2026
BRI Peduli Serahkan Ambulans ke Polres Kuningan, Perkuat Layanan Darurat untuk Masyarakat
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa