Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Irvan Afriandi. (Foto : Ist)
BANDUNG, FORMASNEWS.COM- Kondisi pandemi Covid-19, saat ini tengah kritis. Oleh karena itu, memerlukan intervensi penanganan yang lebih agresif. Langkah yang paling tepat untuk Kota Bandung, melakukan pembatasan aktivitas masyarakat secara total sementara waktu. Bahkan jika memungkinkan lebih ketat dari Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM) Darurat.
Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Irvan Afriandi mengatakan, dengan kondisi yang kritis sekarang ini harus menghentikan sementara aktivitas masyarakat. “Maka dengan tidak ada interaksi, sehingga virus tidak berpindah,” ujarnya saat memberikan keterangan pers secara virtual, Kamis (1/7/2021).
Dikatakan Irvan, virus hanya akan berada pada orang yang sakit yang dirawat sampai sembuh ataupun kemungkinan terburuk apabila ditakdirkan meninggal dunia. Untuk itu, dengan penghentian aktivitas masyarakat dalam kurun waktu dua pekan dengan mengadopsi prosedur penanganan seperti ‘lockdown’. “Perhitungannya karena secara rata-rata orang yang terinfeksi virus sekitar 85 persen akan sembuh tanpa perawatan rumah sakit dan akan membaik selama 2 minggu,” tuturnya.
Bila semua kompak dalam 2 minggu, akan bisa selesai. Sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara lain. Seperti di New Zeland atau bahkan di Wuhan China sekalipun. Khusus di Kota Bandung, sekarang ini situasinya sudah kritis. Sehingga memerlukan intervensi penanganan yang lebih agresif. Bahkan tidak menutup kemungkinan lebih dari aturan pemerintah pusat dengan PPKM.
Lebih lanjut Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unpad ini menyatakan, terkait dengan kasus pandemi Covid-19 pihaknya mengimbau masyarakat dan pemerintah jangan sampai gelagapan dengan kemunculan varian delta ini. “Karena, kunci utama dalam menghadapi setiap pandemi virus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan (Prokes). Seperti virus varian apapun itu cara penanganannya sama. Yaitu dengan menerapkan 5M dan 3T,” ucap Irvan.
Untuk penanganan di Kota Bandung, semua pihak harus memahami bahwa untuk mengukur tingkat keberhasilannya baru bisa terekam dalam kurun waktu dua bulan berikutnya. Dengan catatan selama dua pekan PPKM Darurat semua aktivitas seluruh penghuni di Kota Bandung dihentikan. Karena pola pandemi yang sekarang jauh lebih dahsyat ketika Januari lalu. “Jadi kalau dua minggu ‘off’, manfaat atau efeknya baru akan terlihat sebulan yang akan datang,” tegasnya. (Yat)
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
BRI Percepat Pembiayaan Sektor Produktif, KUR Tembus Rp84,36 Triliun Hingga Mei 2026
BRI Peduli Serahkan Ambulans ke Polres Kuningan, Perkuat Layanan Darurat untuk Masyarakat
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa