(Foto Istimewa)
BANDUNG, FORMASMNEWS,COM- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menggelar kegiatan “Ngobrol di Museum” bertajuk Toponimi Taman dan Jalan di Kota Bandung di Museum Sejarah Kota Bandung, Jalan Aceh, Jumat (25/09/2026). Kegiatan ini digagas untuk menggali kembali nilai sejarah, identitas lokal, serta memori kolektif warga di balik penamaan ruang-ruang publik di Kota Bandung.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua sejarawan dan akademisi, yakni Dr. Miftahul Falah, M.Hum. dan Atep Kurnia. Diskusi ini diikuti secara antusias oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur legislatif, perangkat daerah, komite kebudayaan, hingga masyarakat umum.
Miftahul Falah menjelaskan, penamaan dan perubahan nama jalan di Bandung terus berkembang seiring perjalanan sejarah masyarakatnya, terutama pascadekolonisasi tahun 1950. Ia mencontohkan kawasan Jalan Dipati Ukur yang pada masa kolonial bernama Ring Boulevard dan Beatrix Boulevard, hingga dinamika perubahan nama pada Jalan Cipaganti.
Menurut Miftahul, sejarah suatu kawasan tidak hanya tersimpan dalam dokumen resmi, tetapi juga melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat.
“Setiap jejak masyarakat yang terjadi pada masa lampau itu adalah sejarah. Dan yang menyatakan sejarahnya bukan peristiwanya, melainkan kita,” ujar Miftahul.
Sementara itu, peneliti sejarah Atep Kurnia menyoroti perkembangan taman kota yang tak terpisahkan dari penataan ruang sejak dibentuknya Haminte Bandung pada tahun 1906. Salah satu taman tertua yang menjadi perhatian dalam kajiannya adalah Pieterspark.
“Perkembangan taman di Bandung, terutama pasca-dibentuknya Haminte, sangat terkait erat dengan pembentukan ruang kota kolonial,” terang Atep.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam kegiatan ini adalah Kajian Akademis Toponim Taman Kota yang mencakup 25 taman tematik di Kota Bandung. Kajian tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi penataan nama taman agar lebih selaras dengan kearifan lokal dan sejarah kawasan sekitar.
Beberapa usulan penyesuaian nama taman berdasarkan hasil kajian tersebut antara lain:
• Taman Balai Kota direkomendasikan disesuaikan kembali menjadi Taman Merdeka. • Taman Lansia direkomendasikan disesuaikan menjadi Taman Cisangkuy. • Taman Dewi Sartika direkomendasikan disesuaikan menjadi Taman Wastukancana (berdasarkan keterkaitan historis kawasan Pieterspark dan penamaan Raja Sunda).
Melalui penyelenggaraan program “Ngobrol di Museum”, Disbudpar Kota Bandung berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas perangkat daerah dan komunitas dalam mendukung pemajuan kebudayaan, pelestarian warisan sejarah, serta penataan tata ruang publik yang beridentitas di Kota Bandung. (**)
BRI Peduli Sentuh Akar Persoalan Stunting Lewat Perbaikan Hunian di Ciamis
Renovasi Rumah Jadi Langkah BRI Peduli Dukung Pencegahan Stunting di Indramayu
Dari Sekolah, BRI BO Sukabumi Dorong Pelajar Jadi Generasi Cerdas Finansial
BRI Region 9 Bandung Perkuat UMKM di Era AI, Dewi Hestiningrum Sari Raih Penghargaan
BRI Gandeng Taspen Tingkatkan Perlindungan dan Literasi Keuangan Pensiunan di Cirebon
BRI Peduli Serahkan Ambulans untuk Wingdik 300/Teknik, Perkuat Layanan Kesehatan di Subang
BRI Perkuat Sinergi dengan TNI, Yonzipur 3/YW Terima Bantuan Ambulans untuk Layanan Kemanusiaan
BRI dan YBM BRILian Salurkan Survival Kit untuk Korban Kebakaran Kampung Adat di Sukabumi
BRI Peduli Rayakan Hari Anak Nasional 2026 dengan Kelas Inspirasi dan Bantuan Pendidikan di Subang
Hari Pajak Nasional, BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Negara pada Kuartal I 2026
Komisi A DPRD Kota Bandung, Mamfaatkan Regulasi JPO Bisa Hasilkan PAD
Bapenda Kabupaten Bogor Lakukan Pelayanan Pajak Online
PPKM Darurat Diperpanjang, Pemkot Berikan Relaksasi Sejumlah Kebijakan
Kolabor-Aksi Kemenparekraf dengan Sepuluh Kepala Daerah
Bupati Purwakarta Ikuti Arahan Presiden, untuk Bendung Lonjakan Kasus Covid-19
Copyright ©2017 FormasNews.com - Bersatu Membangun Bangsa